ILMU BUDAYA DASAR
“STORY TELLING JAKA TARUB”
DOSEN : IBU WIDIO PURWANI
ANGGOTA :
AMALIA EKASANTI (20313756)
AUNIA PUTRI HEMAS
BANU F. M.
DANANG
JULOT M.
M. GAMMA M.
M. FADHIL
KELAS 1TB03
Deskripsi Story
Telling:
Legenda Jaka Tarub adalah
salah satu cerita rakyat yang diabadikan dalam naskah populer Sastra Jawa Baru,
Babad Tanah Jawi.
Kisah ini berputar pada
kehidupan tokoh utama yang bernama Jaka Tarub (“Pemuda dari Tarub”). Setelah
dewasa ia digelari Ki Ageng Tarub. Ki Ageng Tarub adalah tokoh yang dianggap
sebagai leluhur dinasti mataram, dinasti yang menguasai politik tanah Jawa – sebagian
atau seluruhnya – sejak abad ke-17 hingga sekarang.
Kisah Jaka Tarub memiliki
makna bahwa sifat curiga bisa berujung membawa malapetaka. Tidak seharusnya
seorang suami (Jaka Tarub) tidak mempercayai istri sendiri (Nawang Wulan).
Sebuah hubungan rumah tangga dibina atas dasar kepercayaan satu sama lainnya.
Apabila ada yang mengingkari, pasti pupus sudah kepercayaan itu. Perpisahanlah
sebagai jalan terakhir bagi hubungan keduanya.
P
|
ada jaman dahulu kala, di Desa Tarub,
tinggallah seorang janda bernama Nyi Randa Tarub. Sejak tinggal seorang diri,
Nyi Randa Tarub mengangkat seorang anak laki-laki yang dipelihara dan
dikasihinya. Anak ini berparas cakap dan sangat berbudi. Tugasnya membantu
pekerjaan Nyi Randa Tarub sehari-hari. Nyi Randa Tarub memanggilnya Jaka Tarub.
Orang – orang di Desa Tarub mengenal
Jaka Tarub sebagai pemuda yang dingin tangannya. Benih apapun yang ditanamnya,
selalu memberikan hasil berlipat ganda. Tak jarang para pengolah ladang dan
huma yang punya masalah dengan tanahnya, datang meminta pertolongan padanya.
“Padiku terserang hama, Jaka Tarub”
kata mereka. Atau, “Buah Palawijaku kecil-kecil hasilnya.” “Tanahku telah
kupupuk dan kupelihara. Mengapa hasilnya tidak memuaskan juga?”
“Baiklah paman-paman, aku akan segera
membantu kalian setelah menyelesaikan pekerjaanku ini ya.” ujar Jaka Tarub.
Dengan akal dan upaya, Jaka Tarub
membantu memecahkan masalah mereka. Bantuan selalu diberikannya dengan
cuma-cuma. Tak pernah Jaka Tarub mau menerima upah dari mereka.
N
|
yi Randa Tarub telah berusia lanjut.
Tak lama lagi maut mungkin akan datang menjemput. Ia semakin mengkhawatirkan Jaka
Tarub yang belum memiliki pendamping hidup.
“Nak, apa kamu tidak lelah setiap
hari selalu bekerja? Sesekali bersosialisasilah dengan teman-teman sebayamu.
Siapa tahu kau menemukan jodohmu nak.” Kata Nyi Randa Tarub.
“Haha Nyi ini bicara apa, aku bekerja
setiap hari demi membahagiakanmu Nyi, aku tidak pernah merasa lelah.”
“Aku tidak tertarik pada gadis di
kampung ini Nyi, suatu saat aku pasti akan menemukan jodohku sendiri.” Ujar
Jaka Tarub.
T
|
anpa terduga-duga, hal yang
dikuatirkan terjadi juga. Karena lanjut usia, pada suatu hari Nyi Randa Tarub
berpulang dengan tenang ke alam baka. Saat itu Jaka Tarub tidak ada di tempat.
Dia tengah mengumpulkan kayu bakar di tengah hutan yang lebat. Berita sampai ke
telinganya, namun sudah terlambat.
Nyi Randa Tarub sudah tidak ada. Jaka
Tarub merasa hasil kerjanya percuma saja. Nyi Randa Tarub kini tidak lagi
membutuhkan tenaganya. Usahanya mengolah ladang dan huma sia-sia belaka.
“Nyi Randa Tarub, kini kau telah
pergi meninggalkanku seorang diri, aku merasa sudah tidak berguna lagi, jikalau
aku pergi bekerja, untuk siapa aku bekerja?” ujar Jaka Tarub dengan penuh
penyesalan.
J
|
aka Tarub kini lebih senang
menyendiri. Orang desa kerap menjumpai dia tengah termenung. Sifatnya yang
ramah berubah jadi pemurung.
Kehidupan Jaka Tarub kini semakin
serba tidak teratur, rasa lelah kerap menghampirinya dan membuatnya mengantuk
hingga jatuh tertidur. Jaka Tarub bermimpi tengah memakan daging kijang muda
yang sangat lezat. Saat ia terbangun, gairahnya muncul untuk segera memburu
kijang muda sungguhan.
Namun alangkah sial dirinya, hari itu
Jaka Tarub berkeliling di dalam hutan memburu kijang muda tapi nihil tiada
hasil. Jaka Tarub mulai putus asa. Ia terduduk melamun meratapi nasibnya. Tapi
alangkah terkejutnya Jaka Tarub melihat keindahan alam yang baru saja terjadi,
alam yang baru saja diliputi hujan kini berubah menjadi cerah dan berwarna
indah.
Tiba-tiba langit yang cerah mengeluarkan
tujuh warna yang menakjubkan, dari merah terang hingga ungu muda. Namun ada
yang janggal, dari ke-tujuh warna yang muncul dilangit ternyata turunlah tujuh
sosok gadis berparas anggun nan cantik sesuai dengan ke-tujuh warna tadi.
Jaka Tarub merasa takjub, terlebih
dengan pesona gadis bergaun ungu muda yang terlihat anggun nan menawan yang
telah berhasil memikat hati Jaka Tarub. Gadis tersebut yang paling muda
diantara warna lainnya, dan para kakaknya memanggilnnya Nawang Wulan.
T
|
ujuh bidadari mendarat dengan
sempurna di sebuah telaga di dalam hutan. Kesejukan dan kesegaran air di telaga
memikat para bidadari untuk turun dari khayangan. Mereka berniat untuk bermain
air bersama dan membersihkan badan.
Jaka Tarub tidak ingin menyia-nyiakan
kesempatan berharga itu. Ia lantas segera mengambil sebuah selendang berwarna
ungu muda milik Nawang Wulan dan menyembunyikannya.
Tujuh bidadari kembali bersiap untuk
pulang ke khayangan. Namun berbeda dengan Nawang Wulan. Ia tampak kebingungan
mencari sehelai selendang kesayangan.
Tanpa menunggu lama, keenam bidadari
pergi terlebih dahulu,meninggalkan sang adik yang paling bungsu.
Nawang Wulan terlihat sedih, ia tak
tahu harus berbuat apa di bumi ini. Karena ia bukan seorang manusia, ia adalah
sesosok bidadari! Ditengah kesedihannya itu, muncul sesosok pemuda tampan yang
kemudian menghampirinya.
“Wahai, siapakah gerangan Adinda
ini?”
“Mengapa Adinda menangis sendiri di
tengah hutan?” ujar Jaka Tarub.
“Aku adalah bidadari, aku ditinggal
oleh keenam saudariku karena aku kehilangan selendang milikku. Aku tidak bisa
pulang ke khayangan tanpa selendangku.” Jawab Nawang Wulan.
“Baiklah, bagaimana jika kau ikut
bersama pulang ke gubuk milikku, kau akan aman disana.” Ajak Jaka Tarub.
Tanpa berpikir dua kali, Nawang Wulan
ikut bersama Jaka Tarub dan tinggal di gubuk miliknya bersama-sama.
S
|
emakin hari Jaka Tarub merasa semakin
jatuh hati pada Nawang Wulan. Mereka berdua akhirnya memutuskan untuk menjadi
pasangan suami-istri dengan sebuah persyaratan dari Nawang Wulan yang kemudian
disetujui oleh Jaka Tarub.
“Aku mau
menjadi istrimu asalkan kau menyetujui syaratku, yaitu aku minta kau memaklumi
cara hidupku sebagai seorang bidadari. Aku punya cara tersendiri dalam
melaksanakan tugas sehari-hari. Kanda harus berjanji untuk tidak memasalahkan
caraku ini.” Ujar Nawang Wulan.
Jaka Tarub
hanya mengangguk sebagai pertanda bahwa ia setuju. Dan Nawang Wulan melanjutkan
pembicaraan dengan pembagian tugas antara suami-istri.
“Kanda
bertanggung jawab atas pekerjaan di ladang dan huma. Tanggung jawabku adalah
dapur dan rumah. Aku tidak akan mempermasalahkan bagaimana cara kanda mengolah
tanah, maka Kanda pun jangan mempermasalahkan bagaimana aku mengolah dapur dan
rumah. Bila perjanjian ini disepakati, aku baru bersedia untuk diperistri.”
“Baiklah
Nawang Wulan, aku bersedia memenuhi persyaratanmu itu” jawab Jaka Tarub dengan
mantap.
K
|
ehidupan suami-istri mereka jalani
dengan saling mengasihi. Seakan-akan tak ada pasangan lain yang lebih serasi di
muka bumi. Sang suami rajin dan rendah hati, sedangkan sang istri setia dan
baik budi. Yang satu gagah dan tampan, yang satu cantik nan rupawan. Tak
seorang pun yang mengira bahwa suami-istri ini berasal dari dua dunia yang
berbeda!
Kebahagiaan
Jaka Tarub pun berlipat ganda dikala ia dikarunia seorang anak perempuan yang diberi
nama Nawangsih. Nawang Wulan berhasil melahirkan seorang anak tanpa bantuan
siapa pun. Ia bahkan tidak terlihat lelah ataupun letih, justru ia langsung
kembali seperti sedia kala. Mengerjakan tugas-tugas rumah dengan sepenuh hati.
Jaka
Tarub heran dan semakin bertanya-tanya. Apa sebenarnya yang terjadi pada sang
istri. Ingin rasanya hati untuk menyelidiki. Namun apadaya, Jaka Tarub teringat
kembali pada sebuah janji.
Rasa
penasaran pun semakin bergejolak ketika Jaka Tarub mendengar perkataan para tetangga.
Mereka berkata bahwa Nawang Wulan adalah siluman. Yang suatu hari mungkin bisa
membuat anaknya tidak aman. Puncak rasa penasaran itu pun terjadi ketika Jaka
Tarub membuka lumbung, hendak menyimpan hasil panen yang melimpah. Jaka Tarub
terkejut. Sepasang alisnya mengerut. Lumbung padinya ternyata masih penuh!
Padinya masih utuh! Wahai, bagaimanakah ini bisa terjadi? Sedangkan setiap hari
Nawang Wulan memasakkannya nasi! Mengapa persediaan pandi di lumbung tidak
berkurang sama sekali?
J
|
aka Tarub tidak lagi dapat menahan
hati. Terlalu banyak peristiwa yang ia tidak mengerti. Tingkah laku istrinya
kini mulai diselidiki. Tanpa disadari, Jaka Tarub telah melupakan janji!
Pada suatu hari, ketika Nawang Wulan
sedang pergi, Jaka Tarub menyelinap ke dalam dapur. Periuk nasi di atas api
sedang berkepul.
“Nawang
Wulan sepertinya sedang tidak di rumah, ini kesempatan baik untukku.” Ujar Jaka
Tarub.
“Apa ini? Mengapa di dalam periuk
nasi hanya ada sebulir padi?” “Bagaimana caranya ini dapat menjadi sebuah nasi?”
Jaka
Tarub segera menyadari. Istrinya yang rupawan memanglah sesosok bidadari. Yang
hanya membutuhkan sebulir padi untuk memasaknya menjadi nasi. Kini dia mulai
menyesali. Dirinya telah melanggar sebuah janji.
S
|
aat Nawang Wulan tiba di rumah, ia terkejut
sekali melihat isi periuk nasi yang seharusnya sudah terisi penuh oleh nasi
namun masih berwujud sebulir padi. Ia tahu ada sesuatu hal yang telah terjadi.
Sang suami pasti telah ingkar janji. Dan kini padi hanyalah sebulir padi. Tak
bisa dengan cepat berubah menjadi buliran nasi.
Semenjak
hari itu Nawang Wulan mulai menjalani hari-harinya dengan penuh kerja keras.
Tidak ada lagi waktu luang untuk bersantai, karena semua pekerjaan rumah
dilakukannya dengan cara manusia. Ia tidak bisa mempergunakan kekuatan
bidadarinya lagi. Semua akibat kecerobohan sang suami.
Jaka
Tarub merasa sangat bersalah, setiap hari Nawang Wulan terlihat begitu lelah.
Raut wajahnya tak lagi terpancar indah. Kehidupan Nawang Wulan yang dulu serba
mudah, jauhlah berubah menjadi serba susah.
Suatu
hari Nawang Wulan merasa kelelahan setelah lama menjalani rutinitas beratnya di
rumah, sebagai istri dan juga sebagai ibu. Ia beristirahat sejenak di lumbung
padi yang kini terlihat lebih luas karena padi-padinya dipergunakan secara wajar
untuk makanan sehari-hari. Saat hendak beristirahat, sesuatu yang tak terduga
pun terjadi. Nawang Wulan menemukan sesuatu yang sangat berharga miliknya sejak
dulu.
“Aku rasa hari ini memang sangat
melelahkan, aku sudah tidak kuat lagi dengan semua ini. Aku merasa ajalku
sebentar lagi akan tiba. Lebih baik aku beristirahat sejenak di lumbung padi
ini.”
“Ya ampun, apa ini?! Inikah selendang
milikku yang telah lama hilang itu? Mengapa bisa ada di sini? Apakah mungkin
Jaka Tarub menyembunyikannya?”
Rahasia
yang selama ini disembunyikan Jaka Tarub akhrinya terungkap oleh istrinya
sendiri. Membuat keluarga kecil berbeda dunia ini harus berpisah demi sang
bidadari. Perbedaan yang begitu jauh sudah tidak bisa dipersatukan kembali.
“Aku harus kembali ke khayangan jika
masih ingin bertahan hidup menjadi bidadari” ujar Nawang Wulan.
“Aku tidak bisa lebih lama lagi
tinggal di dunia ini, aku tidak akan mampu. Karena memang sesungguhnya dunia
kita berbeda. Dan takdir kita pun berbeda. Kita tidak akan bisa bersatu
kakanda.” Katanya menambahkan dengan suara lirih.
“Maafkan aku adinda. Aku dan
Nawangsing akan selalu mengingatmu. Kami ikhlas jika engkau ingin kembali ke
duniamu.” jawab Jaka Tarub.
“Percayalah, dari atas sana aku akan
terus menjaga, memelihara, dan mencintai. Auraku akan melindungi kalian
sepanjang waktu” kata Nawang Wulan seraya meninggalkan Jaka Tarub dan putri
mereka.
S
|
emenjak ditinggal oleh Nawang Wulan, Jaka Tarub dan selalu
hidup dalam keadaan aman dan selalu terhindar dari bahaya. Secara ajaib, Jaka
Tarub dan putrinya tidak pernah merasa kehilangan Nawang Wulan. Mereka percaya,
Nawang Wulan masih ada di antara mereka berdua. Aura bidadarinya menerangi
gubuk mereka. Cintanya yang murni telah menghangati hati suami dan putrinya.
Walaupun tanpa ujud yang nyata, Nawang Wulan tetap hadir untuk menjaga,
memelihara dan mencintai mereka.
Nawang
Wulan tidak pernah melupakan mereka, Nawang Wulan, sang bidadari khayangan, menepati
janjinya.
-SELESAI-
-
Jika
menginginkan sesuatu hal maka harus meraihnya dengan kejujuran.
-
Jika
ingin mendapatkan sesuatu yang lebih baik dibutuhkan keberanian untuk memilih
meskipun hasilnya tidak sesuai dengan harapan.
-
Jangan
pernah mencurigai sesuatu hal yang belum pasti
-
Kehidupan
harus dijalani dengan seimbang, ada yang benar ada yang salah, ada yang datang
ada pula yang pergi.
-
Kepercayaan
harus selalu dipelihara dan dijunjung tinggi. Bila salah seorang menghianati,
kepercayaan itu tidak bernilai lagi. Cinta yang murni pun tidak lagi berarti.
VIDEO :