Saturday, November 15, 2014

Arsitektur Tradisional

Rumah Adat Tradisional   

     Indonesia merupakan Negara Kepulauan, yaitu Negara yang terdiri atas beberapa pulau. Di tiap-tiap pulau dari sabang hingga marauke, terdiri atas beragam macam suku bangsa. Keberagaman suku ini membuat banyak perbedaan yang ada di dalam kehidupan bermasyarakat Indonesia. Meskipun begitu, segala keberagaman inilah yang membuat Indonesia kaya. Kaya akan sumber manusianya, begitu pula alamnya. 

    Masyarakat Indonesia sejak dahulu sudah mahir mendirikan tempat tinggal (rumah) masing-masing di tiap-tiap daerah dengan beragam bentuk dan hiasan. Rumah-rumah tradisional tersebut merupakan salah satu warisan dari nenek-moyang dahulu yang secara turun temurun harus dijaga, dipelihara, dan dilestarikan oleh generasi penerus agar tidak punah. 

       Rumah-rumah tradisional di Indonesia memiliki ciri khas dan keunikan masing-masing pada setiap wilayah dan daerahnya. Pada setiap keunikan dan ciri khas rumah tradisional di Indonesia terkandung banyak makna filosofis yang begitu mendalam, baik itu dalam arti religius maupun kebiasaan adat di wilayah mereka masing-masing. Hal inilah yang membuat saya tertarik untuk mengenal dan memahami Arsitektur Tradisional dari Rumah Adat di Indonesia lebih jauh lagi. 

      Dalam perkuliahan Perkembangan Arsitektur di semester 3, saya pernah mendapatkan tugas untuk mendalami perkembangan arsitektur tradisional di Indonesia. Saya beserta teman-teman lain melakukan survey ke Taman Mini Indonesia Indah, dan mengunjungi sepuluh rumah adat tradisional yang ada di Indonesia. Diantaranya, Rumah Adat Riau, Rumah Adat Toraja, Rumah Adat Kudus Jawa Tengah, Rumah Adat Batak Simalungun, Rumah Adat Bali, Rumah Adat Aceh, Rumah Adat Minangkabau, Rumah Adat Dayak, Rumah Adat Makasar, dan Rumah Adat Minahasa. 

   Dari sepuluh rumah adat yang telah dikunjungi, saya akan mencoba membahas Arsitektur Dua Rumah Adat beserta ciri khas dan keunikannya masing-masing. Rumah Adat Tradisional yang akan dibahas diantaranya, Rumah Adat Tradisional Riau dan Rumoh Aceh. 

      Rumah Adat Tradisional Riau, terdapat 4 macam Rumah Adat Riau berdasarkan wilayah tempat tinggalnya. Yaitu, Rumah Atap Limas (biasanya berada di daerah kepulauan Riau), Rumah Atap Kajang (terdapat di daratan Riau), Rumah Lontik (terdapat di pesisir laut), dan Balai Adat Selaso Jatuh Kembar. Batasan untuk rumah adat riau kali ini, akan dibahas lebih jauh mengenai rumah lontik. 

      Rumah lontik memiliki beberapa keunikan dan ciri khas pada arsitektur rumahnya. Pada pondasi, rumah adat ini menggunakan pondasi umpak. Kolomnya berupa tiang-tiang kayu dengan jumlah 24 tiang terdiri atas 4 tiang utama serta 2 tiang penghulu di dalamnya. Lantai rumah lontik berbahan material berupa papan kayu meranti. Semua ruangan di dalam rumah lontik dilapisi papan dan tikar, kecuali pada ruang dapur. Dinding Rumah Lontik ditempatkan miring agar terlihat seperti menyerupai perahu. Ukiran pada kolom/tiang menggunakan material kayu tembesu, sedangkan pada kusen dan pintu menggunakan kayu resak. Untuk denah ruangnya, rumah lontik ini terbagi atas tiga bagian, yaitu bagian depan yang terdiri dari 2 kamar dan teras, bagian tengah yang merupakan area selasar, dan bagian belakang yang merupakan ruang dapur. 

    Daerah riau merupakan salah satu daerah yang kental akan adat religius agamanya yaitu, agama islam. Hal ini dapat kita lihat dari beberapa filosofi rumah adat lontik. Seperti misalnya tangga yang terdapat di rumah lontik  berjumlah 2 yaitu tangga depan (ruang tamu) dan tangga belakang (ruang dapur). Dengan masing-masing tangga memiliki 5 buah anak tangga yang melambangkan sholat 5 waktu. Pada tangga ini terdapat sebuah ukiran bernama bunga pakis yang bermakna kasih saying seorang ibu kepada anaknya. 

   Ciri khas dan keunikan lain pada rumah lontik ini terlihat pada ragam hias ukiran-ukirannya yaitu, ukiran itik sekawan dan ukiran lambai-lambai. Ragam hias yang terdapat pada atap rumah lontik juga merupakan salah satu ciri khas yang paling mencolok, dengan ragam hias selembayung yang berada di bagian kanan dan kiri atas atap serta hiasan lebah bergayut yang ada di lisplank. 

     Rumah Adat Tradisional Aceh, atau biasa disebut Rumoh Aceh bukanlah sekedar tempat hunian, tetapi merupakan ekspresi keyakinan terhadap Tuhan dan adaptasi terhadap alam. Bagi masyarakat Aceh, membangun rumah bagaikan membangun kehidupan itu sendiri. Hal itulah yang menyebabkan mengapa pembangunan yang dilakukan haruslah memenuhi persyaratan-persyaratan adat membangun rumah. 

    Rumoh aceh memiliki denah ruang yang tidak jauh berbeda dengan Rumah Adat Riau, yaitu memiliki tiga bagian pada rumahnya. Bagian depan bernama seuramou-keu (serambi depan) yang biasanya difungsikan untuk penerimaan tamu atau ruang tidur anak laki-laki, bagian tengah bernama rumah inong (rumah induk) difungsikan sebagai ruang istirahat orangtua, dan seuramou-likkot (serambi belakang) yang difungsikan sebagai tempat istirahat anak perempuan. 

    Dilihat dari aspek Arsitekturnya, Rumoh Aceh menggunakan pondasi umpak, lantainya menggunakan papan dan atapnya beratap rumbia. Untuk tiangnya berjumlah genap dengan kisaran 16 - 24 buah tiang. Rumoh Aceh ini termasuk rumah panggung karena pada jaman dulu hunian ini difungsikan pula untuk tempat berlindung dari hewan buas, menghindari banjir dan getaran gempa, hunian yang menyesuaikan kebutuhan dan mengadaptasi alam. 

    Unsur-unsur filosofis yang terkandung dalam Rumoh Aceh yaitu, tangga rumoh aceh yang selalu berjumlah ganjil dengan jumlah minimum 5 buah anak tangga mengandung makna dari rukun islam serta asmaul husna. Tangga ini juga berfungsi sebagai batas, pemisah antara tamu dengan pemilik rumah, dan tidak sembarang orang bisa masuk ke rumah bila bukan muhrimnya. Di depan tangga juga tersedia guci yang difungsikan untuk para tamu agar bersuci terlebih dahulu sebelum memasuki rumah. Pada pintunya terkesan sangat rendah, hal ini merupakan suatu ciri khas dan kesengajaan dalam pembuatannya agar para tamu yang hendak masuk ke rumah sedikit merunduk sebagai bentuk penghormatan kepada pemilik rumah. Dan terakhir, tiang-tiang Rumoh Aceh selalu memiliki jumlah genap dan hal ini memiliki makna sebagai lambang dari rukun iman. 

    Kesimpulan yang dapat diambil dari dua penjabaran singkat Rumah Tradisional diatas yakni, setiap rumah yang didirikan pada masing-masing wilayah/daerah memiliki keunikan tersendiri. Hal ini bisa dilihat dari makna filosofis aspek arsitektur rumah tradisional tersebut. Karena Riau dan Aceh bisa dikatakan merupakan daerah dengan jarak yang tidak terlalu jauh maka dari itu kebudayaannya masih sama, dengan keduanya mengusung budaya religius. Rumah adat yang didirikan mengambil unsur-unsur dan nilai-niai keagamaan yang selalu melekat dalam aspek kehidupan bermasyarakat mereka sendiri. 

  Sekian pembahasan Arsitektur Tradisional kali ini, besar harapan saya untuk bisa mendalami lebih jauh keunikan arsitektur tradisional lainnya yang ada di Indonesia. Mohon maaf bila masih terdapat banyak kekurangan pada penulisan saya, mohon dimaklumi. Dan terakhir, terima kasih sebesar-besarnya untuk para pembaca sekalian.  

Tuesday, August 12, 2014

Perubahan



Everything has changed


Assalamualaikum wr.wb.
Hallo, Guten Morgen!
Setiap manusia berhak berubah, berubah menjadi pribadi yang lebih baik tentunya sangat bagus. Saya termasuk salah seorang yang mengalami banyak sekali perubahan dalam diri saya. Jika saya flashback pada kehidupan saya di masa-masa SD sudah pasti sangat berbeda jauh, baik dari segi perilaku, pola pikir, maupun sifat. Saya sadar dengan adanya perubahan tersebut dalam diri saya, banyak teman-teman yang kini mulai menjauh dari hidup saya (entah hanya prasangka saya saja) tapi itu memang terlihat dengan nyata. Mereka yang dulu tertawa bersama, saling berbagi cerita bersama, kini saling menjauh dengan saya. Yap! Mereka memang tidak berubah, namun saya yang mengalami perubahan itu. Saya merasakan sendiri perbedaannya.
Pada kesempatan kali ini saya akan menceritakan sedikit kehidupan saya dari masa-masa duduk di bangku sekolah dasar, hingga saya yang sekarang sebagai mahasiswa baru di suatu perguruan tinggi (bagi yang sudah membaca postingan saya terdahulu pasti tahu saya melanjutkan studi ke mana).
Oh ya, sebelumnya saya mau beri tahu kalau setelah postingan saya kali ini mungkin kedepannya postingan di blog saya juga akan menggunakan kata “saya” sebagai pengganti kata “gue/gua” yang baru saya sadari itu tidak terlalu nyaman dibaca dalam suatu tulisan.  Okelah, mungkin intronya sudah cukup ya hehe, sekarang kita mulai kisah perubahannya.........


Ø  Sekolah Dasar Negeri Depok Baru 6 (SDN DeBar 6)
         Kita semua pasti pernah mempunyai keinginan, atau setidaknya berandai-andai kehidupan rumit kita yang sekarang berganti menjadi kisah-kisah menyenangkan di jaman sekolah dasar maupun taman kanak-kanak, dimana semua imajinasi bisa menjadi nyata tanpa ada rasa ragu maupun takut akan mengalami kegagalan. Ini adalah masa-masa saya bebas berekspresi, bermain tanpa kenal waktu, bergaul dengan semua teman dan bersenang-senang sepuasnya. Hal-hal kecil yang masih saya ingat, dulu saat sd saya selalu mengikuti kegiatan 17 agustusan baik yang diadakan di sekolah maupun di lingkungan rumah. Saya pernah tampil menari bersama teman-teman saya di acara 17-an di lingkungan rumah saya. Perlombaan yang paling saya suka saat 17-an adalah perlombaan menangkap belut atau memasukkan paku ke dalam botol atau yang ini nih perlombaan yang sekaligus menguntungkan... lomba mengambil koin seribuan yang ditancapkan di buah dan ngambilnya pake gigi hahaha bahagia sekali di kala itu :’) . Saya juga ingat, dulu saya aktif dalam kegiatan drum band (sebagai belliran), upacara sekolah (sebagai pembawa acara dan ini always tiap hari senin dimulai sejak kelas 5/6), maupun pramuka (ikut perkemahan serta pawai obor). Saya benar-benar sangat merindukan segala aktivitas saya di jaman ini. Belum banyak hal-hal asing yang mempengaruhi pikiran saya, atau bisa dibilang saya masih sangat polos saat itu. Alhamdulillah saya juga sudah khatam Al-qur’an dan diwisuda dari jaman sd ini. Sebenarnya saya juga memulai mengetahui rasa suka terhadap lawan jenis saat masa-masa sd, namun saya menolak mereka dengan alasan : “kita masih kecil, belum boleh pacaran tau”  ß well this one is very inocent hahaha...



Ø  Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Depok (Bangor/Baraya)
         Es.em.pe! ya dan ya dan ya. Kehidupan saya mulai berubah sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama ini. Waktu sd, angkatan saya hanya terdiri dari 1 kelas saja, tapi ketika masuk SMP, berubah.... semua berubah. Angkatan saya adalah angkatan 33 dan terdiri dari 9 kelas (wow!) ß (a very shocking moment, actually) dan itu sudah termasuk 2 kelas yang merupakan kelas RSBI  (kelas ini angkatan pertama) di sekolah saya. Otomatis ya, muridnya banyakkk!
         Awalnya setelah lulus dari SD, saya sudah diterima menjadi siswi baru di SMPN 5 Depok. Waktu itu Papah saya menyarankan untuk mencoba tes RSBI (yang sebenernya saya juga gatau ini program kelas seperti apa) di SMPN 2. Setelah beberapa hari, ada surat di depan rumah yang isinya ternyata saya diterima sebagai siswi baru di SMPN 2 Depok tersebut. Saya bingung dong, ga mengerti sama sekali nantinya bakal ngapain dan gimana dan alhasil ngikut aja apa kata papah. Berkas yang di smp 5 di cabut, tapi setelah seminggu mulai sekolah nama saya masih aja diabsen di smp 5 itu -__- haha.
         Di masa-masa SMP ini, saya banyak sekali mendapatkan ilmu dan hal-hal baru dari guru maupun teman-teman di sekolah. Saya memang tipikal anak yang kurang banyak berbicara ketika di kelas, namun di luar itu saat ngobrol dengan “teman-teman” saya, saya bisa menjadi diri saya sendiri yang terkadang autis dan unpredictable. Di SMP ini saya bertemu 9 orang “teman-teman” itu, mereka baik, and it’s really nice to have a friendship with all of them J . Gak jarang lah ya di sebuah hubungan pertemanan juga ada konflik, tapi kami enjoy aja dan akhirnya bisa membaik seperti semula. Saya mulai sering jalan-jalan sendiri (tanpa orang tua), sama teman, movie marathon bareng, jadi lebih mandiri dan banyak lagi yang lain. Saya jadi tahu arti pertemanan seperti apa, dan di SMP inilah pertama kalinya juga saya merasakan yang namanya “falling in love with someone”. #memories #flashback #again? #ok.
         As I remember, when we were still in JHS, we kept ourself feeling almost 2 years. Then, we starting to get relationship in Senior High School.
         

Ø  Sekolah Menengah Atas Negeri 3 Depok (Smanti)
         Haaaaa di masa-masa sekolah SMA ini juga banyak unforgetable moment-nya especially with delicates (angkatan saya, yang ke-24 di SMANTI).  Dimulai dari @XpresSIX ke @Elvscisix dan terakhir, @Dilemacinta24. Honestly, diantara ketiga kelas itu, saya paling comfort ketika berada di @XpresSIX (dunno why). Mungkin karena teman-temannya yang sangat baik dan sangat pintar-pintar!! (really miss you guys! T_T). Selama di kelas, saya suka cerita-cerita tentang banyak hal sama beberapa teman saya, saling curhat tentang pacar dan lain-lain.
         Saat di kelas 2, saya memutuskan untuk meninggalkan status In relationship with xxxxx. Berat sih awalnya, tapi setelah mengkuti ekstrakulikuler rohis, saya semakin banyak mendapat ilmu dan saya yakin ini memang keputusan yang tepat. That’s our decicion, so we break up and now we still have a good friendship like with the others J . Saya sangat berterima kasih karena saya yang sekarang bisa menjadi lebih dewasa dalam menentukan sesuatu hal, apapun itu.
         Saat kelas dua SMA pula saya memulai memantapkan hati untuk berhijab, alhamdulillah. Berkat dukungan dari kedua orang tua saya, teman-teman terbaik saya dan atas ridho dari Allah SWT juga tentunya. Semenjak berkeredung itu, saya merasa nyaman, aman, dan “terbatasi”, dan saya suka dengan batasan-batasan tersebut. Batasan dalam pergaulan sesama muslim berlawan jenis, dan batasan untuk tidak melakukan tindakan yang dilarang dalam agama.
         Kalau boleh bercerita sedikit, jaman sekarang mulai banyak sekali tren-tren hijab tutorial dari merk A atau B. Jujur dulu saya juga pernah mencoba beli 2 helai kain phasmina tipis untuk gaya berkerudung modern, setelah dicoba-coba lumayan juga. Namun, saya nggak berani untuk memakainya saat keluar rumah, entah mengapa saya merasa risih. Dan saya juga baru mengetahui kalau ternyata semua model-model gaya berkerudung seperti itu haram hukumnya, karena dikatakan dalam Al-qur’an dan bisa dibaca lebih jelasnya di www.gadisberjilbab.tumblr.com sebenarnya masih banyak macam-macamnya dan jika kamu tertarik lebih jauh tentang dilema hukum hijab modern ini juga bisa membacanya di www.danisiregar.com .
         Dan sekarang, alhamdulillah sudah banyak juga gerakan-gerakan para muslimah yang menentang gaya-gaya berhijab seperti itu, misalnya @pedulijilbab dan @gadisberjilbabb subhanallah... masih ada ternyata umat-umat muslimah yang terus tanpa gentar menyerukan pakaian-pakaian wanita muslimah yang seharusnya, yang menurut syariah.
         Waaah jadi rada ngalor-ngidul gini ya ceritanya hahaha... intinya sih dari judul di atas saya telah berubah menjadi pribadi baru yang mungkin bagi beberapa kalangan muda-mudi jaman sekarang bisa dibilang kaum fanatik karena selalu menasihati atau selalu share yang berbau agama. Saya hanya sedang berusaha untuk lebih taat pada semua perintah dari Yang Maha Pencipta. Mungkin beberapa dari kalian ada yang berpikir saya sombong karena jarang berkomunikasi, tapi maaf sekali lagi bukan seperti itu alasan saya. Saya hanya ingin menjaga batasan-batasan dalam pergaulan sehari-hari. Semoga kalian bisa mengerti ya kawan :’) dan yang terakhir, semoga beberapa tulisan di atas bisa memberi manfaat bagi kalian yang membaca. Aamiin ya Rabbalalamin.
         Auf Wiedersehen!
        
         Wassalamualaikum wr.wb.











Monday, July 7, 2014

ILMU BUDAYA DASAR



ILMU BUDAYA DASAR

“STORY TELLING JAKA TARUB”

DOSEN : IBU WIDIO PURWANI






ANGGOTA :

AMALIA EKASANTI (20313756)

AUNIA PUTRI HEMAS

BANU F. M.

DANANG

JULOT M.

M. GAMMA M.

M. FADHIL



KELAS 1TB03
Deskripsi Story Telling:
*                Judul : Jaka Tarub
*                Asal daerah  : Jawa Timur
*                Sejarah Legenda Jaka Tarub :
Legenda Jaka Tarub adalah salah satu cerita rakyat yang diabadikan dalam naskah populer Sastra Jawa Baru, Babad Tanah Jawi.
Kisah ini berputar pada kehidupan tokoh utama yang bernama Jaka Tarub (“Pemuda dari Tarub”). Setelah dewasa ia digelari Ki Ageng Tarub. Ki Ageng Tarub adalah tokoh yang dianggap sebagai leluhur dinasti mataram, dinasti yang menguasai politik tanah Jawa – sebagian atau seluruhnya – sejak abad ke-17 hingga sekarang.
*                Filosofi dan makna :


Kisah Jaka Tarub memiliki makna bahwa sifat curiga bisa berujung membawa malapetaka. Tidak seharusnya seorang suami (Jaka Tarub) tidak mempercayai istri sendiri (Nawang Wulan). Sebuah hubungan rumah tangga dibina atas dasar kepercayaan satu sama lainnya. Apabila ada yang mengingkari, pasti pupus sudah kepercayaan itu. Perpisahanlah sebagai jalan terakhir bagi hubungan keduanya.


*               Ringkasan Cerita :

P
ada jaman dahulu kala, di Desa Tarub, tinggallah seorang janda bernama Nyi Randa Tarub. Sejak tinggal seorang diri, Nyi Randa Tarub mengangkat seorang anak laki-laki yang dipelihara dan dikasihinya. Anak ini berparas cakap dan sangat berbudi. Tugasnya membantu pekerjaan Nyi Randa Tarub sehari-hari. Nyi Randa Tarub memanggilnya Jaka Tarub.
Orang – orang di Desa Tarub mengenal Jaka Tarub sebagai pemuda yang dingin tangannya. Benih apapun yang ditanamnya, selalu memberikan hasil berlipat ganda. Tak jarang para pengolah ladang dan huma yang punya masalah dengan tanahnya, datang meminta pertolongan padanya.
“Padiku terserang hama, Jaka Tarub” kata mereka. Atau, “Buah Palawijaku kecil-kecil hasilnya.” “Tanahku telah kupupuk dan kupelihara. Mengapa hasilnya tidak memuaskan juga?”
“Baiklah paman-paman, aku akan segera membantu kalian setelah menyelesaikan pekerjaanku ini ya.” ujar Jaka Tarub.
Dengan akal dan upaya, Jaka Tarub membantu memecahkan masalah mereka. Bantuan selalu diberikannya dengan cuma-cuma. Tak pernah Jaka Tarub mau menerima upah dari mereka.

N
yi Randa Tarub telah berusia lanjut. Tak lama lagi maut mungkin akan datang menjemput. Ia semakin mengkhawatirkan Jaka Tarub yang belum memiliki pendamping hidup.
“Nak, apa kamu tidak lelah setiap hari selalu bekerja? Sesekali bersosialisasilah dengan teman-teman sebayamu. Siapa tahu kau menemukan jodohmu nak.” Kata Nyi Randa Tarub.
“Haha Nyi ini bicara apa, aku bekerja setiap hari demi membahagiakanmu Nyi, aku tidak pernah merasa lelah.”
“Aku tidak tertarik pada gadis di kampung ini Nyi, suatu saat aku pasti akan menemukan jodohku sendiri.” Ujar Jaka Tarub.

T
anpa terduga-duga, hal yang dikuatirkan terjadi juga. Karena lanjut usia, pada suatu hari Nyi Randa Tarub berpulang dengan tenang ke alam baka. Saat itu Jaka Tarub tidak ada di tempat. Dia tengah mengumpulkan kayu bakar di tengah hutan yang lebat. Berita sampai ke telinganya, namun sudah terlambat.
Nyi Randa Tarub sudah tidak ada. Jaka Tarub merasa hasil kerjanya percuma saja. Nyi Randa Tarub kini tidak lagi membutuhkan tenaganya. Usahanya mengolah ladang dan huma sia-sia belaka.
“Nyi Randa Tarub, kini kau telah pergi meninggalkanku seorang diri, aku merasa sudah tidak berguna lagi, jikalau aku pergi bekerja, untuk siapa aku bekerja?” ujar Jaka Tarub dengan penuh penyesalan.

J
aka Tarub kini lebih senang menyendiri. Orang desa kerap menjumpai dia tengah termenung. Sifatnya yang ramah berubah jadi pemurung.
Kehidupan Jaka Tarub kini semakin serba tidak teratur, rasa lelah kerap menghampirinya dan membuatnya mengantuk hingga jatuh tertidur. Jaka Tarub bermimpi tengah memakan daging kijang muda yang sangat lezat. Saat ia terbangun, gairahnya muncul untuk segera memburu kijang muda sungguhan.
Namun alangkah sial dirinya, hari itu Jaka Tarub berkeliling di dalam hutan memburu kijang muda tapi nihil tiada hasil. Jaka Tarub mulai putus asa. Ia terduduk melamun meratapi nasibnya. Tapi alangkah terkejutnya Jaka Tarub melihat keindahan alam yang baru saja terjadi, alam yang baru saja diliputi hujan kini berubah menjadi cerah dan berwarna indah.
Tiba-tiba langit yang cerah mengeluarkan tujuh warna yang menakjubkan, dari merah terang hingga ungu muda. Namun ada yang janggal, dari ke-tujuh warna yang muncul dilangit ternyata turunlah tujuh sosok gadis berparas anggun nan cantik sesuai dengan ke-tujuh warna tadi.
Jaka Tarub merasa takjub, terlebih dengan pesona gadis bergaun ungu muda yang terlihat anggun nan menawan yang telah berhasil memikat hati Jaka Tarub. Gadis tersebut yang paling muda diantara warna lainnya, dan para kakaknya memanggilnnya Nawang Wulan.

T
ujuh bidadari mendarat dengan sempurna di sebuah telaga di dalam hutan. Kesejukan dan kesegaran air di telaga memikat para bidadari untuk turun dari khayangan. Mereka berniat untuk bermain air bersama dan membersihkan badan.
Jaka Tarub tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan berharga itu. Ia lantas segera mengambil sebuah selendang berwarna ungu muda milik Nawang Wulan dan menyembunyikannya.
Tujuh bidadari kembali bersiap untuk pulang ke khayangan. Namun berbeda dengan Nawang Wulan. Ia tampak kebingungan mencari sehelai selendang kesayangan.
Tanpa menunggu lama, keenam bidadari pergi terlebih dahulu,meninggalkan sang adik yang paling bungsu.
Nawang Wulan terlihat sedih, ia tak tahu harus berbuat apa di bumi ini. Karena ia bukan seorang manusia, ia adalah sesosok bidadari! Ditengah kesedihannya itu, muncul sesosok pemuda tampan yang kemudian menghampirinya.
“Wahai, siapakah gerangan Adinda ini?”
“Mengapa Adinda menangis sendiri di tengah hutan?” ujar Jaka Tarub.
“Aku adalah bidadari, aku ditinggal oleh keenam saudariku karena aku kehilangan selendang milikku. Aku tidak bisa pulang ke khayangan tanpa selendangku.” Jawab Nawang Wulan.
“Baiklah, bagaimana jika kau ikut bersama pulang ke gubuk milikku, kau akan aman disana.” Ajak Jaka Tarub.
Tanpa berpikir dua kali, Nawang Wulan ikut bersama Jaka Tarub dan tinggal di gubuk miliknya bersama-sama.

S
emakin hari Jaka Tarub merasa semakin jatuh hati pada Nawang Wulan. Mereka berdua akhirnya memutuskan untuk menjadi pasangan suami-istri dengan sebuah persyaratan dari Nawang Wulan yang kemudian disetujui oleh Jaka Tarub.
“Aku mau menjadi istrimu asalkan kau menyetujui syaratku, yaitu aku minta kau memaklumi cara hidupku sebagai seorang bidadari. Aku punya cara tersendiri dalam melaksanakan tugas sehari-hari. Kanda harus berjanji untuk tidak memasalahkan caraku ini.” Ujar Nawang Wulan.
Jaka Tarub hanya mengangguk sebagai pertanda bahwa ia setuju. Dan Nawang Wulan melanjutkan pembicaraan dengan pembagian tugas antara suami-istri.
“Kanda bertanggung jawab atas pekerjaan di ladang dan huma. Tanggung jawabku adalah dapur dan rumah. Aku tidak akan mempermasalahkan bagaimana cara kanda mengolah tanah, maka Kanda pun jangan mempermasalahkan bagaimana aku mengolah dapur dan rumah. Bila perjanjian ini disepakati, aku baru bersedia untuk diperistri.”
“Baiklah Nawang Wulan, aku bersedia memenuhi persyaratanmu itu” jawab Jaka Tarub dengan mantap.

K
ehidupan suami-istri mereka jalani dengan saling mengasihi. Seakan-akan tak ada pasangan lain yang lebih serasi di muka bumi. Sang suami rajin dan rendah hati, sedangkan sang istri setia dan baik budi. Yang satu gagah dan tampan, yang satu cantik nan rupawan. Tak seorang pun yang mengira bahwa suami-istri ini berasal dari dua dunia yang berbeda!
       Kebahagiaan Jaka Tarub pun berlipat ganda dikala ia dikarunia seorang anak perempuan yang diberi nama Nawangsih. Nawang Wulan berhasil melahirkan seorang anak tanpa bantuan siapa pun. Ia bahkan tidak terlihat lelah ataupun letih, justru ia langsung kembali seperti sedia kala. Mengerjakan tugas-tugas rumah dengan sepenuh hati.
       Jaka Tarub heran dan semakin bertanya-tanya. Apa sebenarnya yang terjadi pada sang istri. Ingin rasanya hati untuk menyelidiki. Namun apadaya, Jaka Tarub teringat kembali pada sebuah janji.
       Rasa penasaran pun semakin bergejolak ketika Jaka Tarub mendengar perkataan para tetangga. Mereka berkata bahwa Nawang Wulan adalah siluman. Yang suatu hari mungkin bisa membuat anaknya tidak aman. Puncak rasa penasaran itu pun terjadi ketika Jaka Tarub membuka lumbung, hendak menyimpan hasil panen yang melimpah. Jaka Tarub terkejut. Sepasang alisnya mengerut. Lumbung padinya ternyata masih penuh! Padinya masih utuh! Wahai, bagaimanakah ini bisa terjadi? Sedangkan setiap hari Nawang Wulan memasakkannya nasi! Mengapa persediaan pandi di lumbung tidak berkurang sama sekali?

J
aka Tarub tidak lagi dapat menahan hati. Terlalu banyak peristiwa yang ia tidak mengerti. Tingkah laku istrinya kini mulai diselidiki. Tanpa disadari, Jaka Tarub telah melupakan janji!
Pada suatu hari, ketika Nawang Wulan sedang pergi, Jaka Tarub menyelinap ke dalam dapur. Periuk nasi di atas api sedang berkepul.
       “Nawang Wulan sepertinya sedang tidak di rumah, ini kesempatan baik untukku.” Ujar Jaka Tarub.
“Apa ini? Mengapa di dalam periuk nasi hanya ada sebulir padi?” “Bagaimana caranya ini dapat menjadi sebuah nasi?”
       Jaka Tarub segera menyadari. Istrinya yang rupawan memanglah sesosok bidadari. Yang hanya membutuhkan sebulir padi untuk memasaknya menjadi nasi. Kini dia mulai menyesali. Dirinya telah melanggar sebuah janji.

S
aat Nawang Wulan tiba di rumah, ia terkejut sekali melihat isi periuk nasi yang seharusnya sudah terisi penuh oleh nasi namun masih berwujud sebulir padi. Ia tahu ada sesuatu hal yang telah terjadi. Sang suami pasti telah ingkar janji. Dan kini padi hanyalah sebulir padi. Tak bisa dengan cepat berubah menjadi buliran nasi.
       Semenjak hari itu Nawang Wulan mulai menjalani hari-harinya dengan penuh kerja keras. Tidak ada lagi waktu luang untuk bersantai, karena semua pekerjaan rumah dilakukannya dengan cara manusia. Ia tidak bisa mempergunakan kekuatan bidadarinya lagi. Semua akibat kecerobohan sang suami.
       Jaka Tarub merasa sangat bersalah, setiap hari Nawang Wulan terlihat begitu lelah. Raut wajahnya tak lagi terpancar indah. Kehidupan Nawang Wulan yang dulu serba mudah, jauhlah berubah menjadi serba susah.

       Suatu hari Nawang Wulan merasa kelelahan setelah lama menjalani rutinitas beratnya di rumah, sebagai istri dan juga sebagai ibu. Ia beristirahat sejenak di lumbung padi yang kini terlihat lebih luas karena padi-padinya dipergunakan secara wajar untuk makanan sehari-hari. Saat hendak beristirahat, sesuatu yang tak terduga pun terjadi. Nawang Wulan menemukan sesuatu yang sangat berharga miliknya sejak dulu.
“Aku rasa hari ini memang sangat melelahkan, aku sudah tidak kuat lagi dengan semua ini. Aku merasa ajalku sebentar lagi akan tiba. Lebih baik aku beristirahat sejenak di lumbung padi ini.”
“Ya ampun, apa ini?! Inikah selendang milikku yang telah lama hilang itu? Mengapa bisa ada di sini? Apakah mungkin Jaka Tarub menyembunyikannya?”
       Rahasia yang selama ini disembunyikan Jaka Tarub akhrinya terungkap oleh istrinya sendiri. Membuat keluarga kecil berbeda dunia ini harus berpisah demi sang bidadari. Perbedaan yang begitu jauh sudah tidak bisa dipersatukan kembali.
“Aku harus kembali ke khayangan jika masih ingin bertahan hidup menjadi bidadari” ujar Nawang Wulan.
“Aku tidak bisa lebih lama lagi tinggal di dunia ini, aku tidak akan mampu. Karena memang sesungguhnya dunia kita berbeda. Dan takdir kita pun berbeda. Kita tidak akan bisa bersatu kakanda.” Katanya menambahkan dengan suara lirih.
“Maafkan aku adinda. Aku dan Nawangsing akan selalu mengingatmu. Kami ikhlas jika engkau ingin kembali ke duniamu.” jawab Jaka Tarub.
“Percayalah, dari atas sana aku akan terus menjaga, memelihara, dan mencintai. Auraku akan melindungi kalian sepanjang waktu” kata Nawang Wulan seraya meninggalkan Jaka Tarub dan putri mereka.

S
emenjak ditinggal oleh Nawang Wulan, Jaka Tarub dan selalu hidup dalam keadaan aman dan selalu terhindar dari bahaya. Secara ajaib, Jaka Tarub dan putrinya tidak pernah merasa kehilangan Nawang Wulan. Mereka percaya, Nawang Wulan masih ada di antara mereka berdua. Aura bidadarinya menerangi gubuk mereka. Cintanya yang murni telah menghangati hati suami dan putrinya. Walaupun tanpa ujud yang nyata, Nawang Wulan tetap hadir untuk menjaga, memelihara dan mencintai mereka.
       Nawang Wulan tidak pernah melupakan mereka, Nawang Wulan, sang bidadari khayangan, menepati janjinya.
      
-SELESAI-
      

*               Nilai moral dan hikmah :
-         Jika menginginkan sesuatu hal maka harus meraihnya dengan kejujuran.
-         Jika ingin mendapatkan sesuatu yang lebih baik dibutuhkan keberanian untuk memilih meskipun hasilnya tidak sesuai dengan harapan.
-         Jangan pernah mencurigai sesuatu hal yang belum pasti
-         Kehidupan harus dijalani dengan seimbang, ada yang benar ada yang salah, ada yang datang ada pula yang pergi.
-         Kepercayaan harus selalu dipelihara dan dijunjung tinggi. Bila salah seorang menghianati, kepercayaan itu tidak bernilai lagi. Cinta yang murni pun tidak lagi berarti.


VIDEO :