Monday, February 9, 2015

Arsitektur Lingkungan



ARSITEKTUR BIOLOGIK

Dasar kehidupan kita antara lain mencakup pembangunan dan pemukiman. Dasar ini sebenarnya menjadi titik pangkal cara kita membangun. Akan tetapi dewasa ini banyak hal tentang dasar-dasar kehidupan itu telah disingkirkan.
Salah satu tujuan penting dari cara membangun, ialah perlindungan terhadap penghuni. Perencanaan proyek besar – juga di Indonesia – pada tahun-tahun yang lalu sering lebih banyak memperhatikan masalah teknis dan bahan bangunan daripada kenyamanan dan perlindungan penghuninya. Hasil arsitektur atau bangunan yang dianggap modern sering kali tidak sesuai untuk tempat kediaman atau pemukiman manusia.
Kehidupan manusia bersegi dua, yaitu alam dan teknik. Teknik dilahirkan dimana terdapat kekurangan. Dalam hal ini teknik diciptakan sebagai alat pembantu/buatan untuk menjembatani kesenjangan yang terjadi karena proses biologic yang terlambat atau memakan waktu yang terlalu lama. Akan tetapi penggunaan teknik yang berlebihan mengakibatkan keadaan kritis dalam kaitannya dengan biologi, psikologi, dan ekologi. Keadaan kritis tersebut merupakan harga yang harus dibayar atas keuntungan teknik yang sangat terbatas. Dalam hal ini arsitektur biologic akan mempergunakan teknologi alam untuk menetralisasi keadaan kritis tersebut. Arsitektur biologic adalah sebagian dari arsitektur ekologik yang jauh lebih luas dan rumit karena juga memperhatikan pengaruh pembangunan alternatif, bionic (teknik dan konstruksi biologic), iklim dan keadaan setempat serta biologi pembangunan.
Atas dasar pengetahuan di atas, maka perhatian kepada arsitektur teknik dialihkan kepada arsitektur kemanusiaan yang memperhitungkan juga keselarasan dengan alam maupun kepentingan manusia penghuninya. Pembangunan menurut kebutuhan manusia itu kita namakan pembangunan secara biologis atau arsitektur biologis. Biologis berasal dari kata à (bios, bahasa Yunani), yang berarti alah kehidupan/alam tumbuh-tumbuhan dan à (logos, bahasa Yunani) berarti dunia teratur, dunia berakal. Rumah tempat tinggal boleh dianggap sebagai suatu susunan organis, yang berfungsi sebagai kulit manusia yang ketiga (pakaian sebagai kulit kedua). Istilah arsitektur biologis tersebut memperlihatkan hubungan erat antara manusia dan alam sekitar. Jadi : 

“Arsitektur Biologis berart ilmu penghubung antara manusa dan lingkungannya secara keseluruhan”

Titik berat definisi tersebut di atas terletak pada kata keseluruhan. Hanya penyelesaian secara interdisipliner memungkinkan pengertian sepenuhnya. Hubungan-hubungan arsitektur biologis dapat diperlihatkan sebagai berikut :
Arsitektur
Bios
Logos
Rumah, pondok
Kehidupan
Keputusan
Kulit manusia ketiga
Daya hidup
Daya cipta, energy
Tanah air
Alamiah
Materialisasi
Kediaman/pemukiman
Alam kehidupan
Dunia teratur
Kebiasaan
Alam tumbuh-tumbuhan
Keselarasan
Tempat berlindung

Kesehatan


Kebudayaan

Daftar kata dan istilah di atas menentukan hubungan erat antara bagian arsitektur/pembangunan, biologi/kehidupan dan logos/dunia teratur secara interdisipliner.
Jikalau kemanusiaan dan kebudayaan tidak menjadi pusat pada penyelesaian arsitektur/pembangunan, maka prinsip biologis diabaikan. Bila itu terjadi, arsitektur dan teknik di bidang bangunan perumahan hanya akan membentuk rumah dan tempat kediaman tanpa roh dan jiwa, tanpa rasa kemanusiaan. Manusia sebagai penghuni gedung dan bangunan tersebut akan terasing.
Kehidupan, pemukiman dan pembangunan merupakan materi yang rumit dan berlapis majemuk. Penyelesaian yang baik hanya dapat dihasilkan dalam kerja sama antara berbagai unsur yang terkait.
Pentingnya arsitektur dan arsitek dicerminkan oleh komposisi dan penghubungan bagian-bagian sebagai sesuatu yang harmonis dan kompleks. Kualitas bangunan dengan bagian-bagian material dan rohani menentukan kualitas lingkungan hidup manusia. Perhatian terhadap tiap-tiap bagian yang mempengaruhi kualitas kehidupan, dilakukan oleh arsitektur biologis.

Sumber : Arsitektur dan Lingkungan – Ir. Heinz Frick

No comments:

Post a Comment