Prolog
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarokatu.
Alhamdulillahirabbilalamiiin…
hari ini dikasih kesempatan sama Allah SWT. buat bikin beberapa postingan blog
seperti hobi dan kebiasaan saya di jaman dulu. Iya “jaman dulu” kesannya sudah
lama sekali yah. Dulu sewaktu SMA saya suka menulis, bercerita tentang
kehidupan dan pengalaman yang saya alami sehari-hari. Atau memori yang menurut
saya priceless sekali dan untuk mengingatnya akan lebih baik bila memori itu
tercurahkan dalam bentuk tulisan-tulisan yang kelak bisa saya
"lihat-lihat” kembali. Tapi ada sih beberapa posting tentang memori indah
di masa lalu yang sudah saya delete. Maaf untuk “kamu yang tidak bisa saya sebutkan namanya” yang mungkin ada di
dalam postingan itu. Bukan berarti saya tidak ingin mengingatnya, hanya saja
ini lebih baik untuk kita kedepannya dan untuk masa depan keduanya *smile
emoticon*
Okelah cukup disitu
basa-basinya…… (Ya saya capek juga sih ngetiknya hahaha)
*skip*
Day 1
Sunday, August 16th
2015
Okay, hari ini
adalah hari minggu. Ya, biasanya kalau hari-hari minggu tahun lalu saya
memanfaatkannya untuk berolahraga pagi, senam, jogging, dan berburu
jajanan&sarapan pagi bersama keluarga (Papah, Mamah, Adik perempuan saya).
Tapi hari minggu yang saya lalui mulai dari maret 2015 lalu sudah berbeda. Saya
tidak bisa olahraga pagi bersama keluarga lagi karena saya harus ikut kursus
conversation LIA setiap hari minggu yang mulainya itu dari jam 08.00 PAGI dan
selesai jam 12.00. Agak sedih sih, tapi ya demi tujuan hidup & cita-cita,
saya harus ambil resiko. Bahasa Inggris itu akan menjadi salah satu penyelamat
bagi karir saya di masa depan. Saya harap sih gak cuma bahasa inggris aja,
kalau dikasih kesempatan mau juga bisa belajar bahasa lainnya seperti Jerman
atau Arab. Pasti seru banget kalau bisa menguasai banyak bahasa, bisa
berkomunikasi dengan beragam orang dengan latar belakang dan kultur yang
berbeda-beda. Seru sekali…… (sekarang lagi ngetik sambil ngelamun ceritanya
hahaha).
Hari ini saya
tiba di LIA Depok Class CV 4 ruang 304 pukul 7.45, saat saya tiba di kelas
ternyata ada selembar kertas pengumuman di depan pintu bahwa kelasnya move ke
ruang 206, okay lah saya turun lagi ke lantai 2. Ya sepertinya akan ada acara
di ruang 304 yang besar itu, mengingat besok hari perayaan kemerdekaan
Indonesia yang ke-70. Saya pun masuk ke ruang 206 disusul dengan beberapa teman
yang lain yang baru datang juga. Kami mengobrol-ngobrol sebentar sebelum waktu
belajar dimulai. Dikelas CV 4 ini isinya perempuan semua loh, ada-lah 15
orangan lebih haha, dan teachernya juga perempuan loh *happy emoticon* entah
kebetulan atau memang populasi laki-laki semakin sedikit hahaha.
Bel tanda masuk
kelas sudah berbunyi, dan guru les saya yang bernama Miss Umi akhirnya datang
dan memulai kelas seperti biasa. Di kelas kami, setiap minggu-nya akan ada
presentasi acak yang tema dan orang-nya pun dipilih secara acak oleh guru kami.
Jadi kami mau/tidak mau, bisa/tidak bisa, suka/tidak suka, harus tetap maju ke
depan kelas untuk melakukan presentasi dengan durasi kira-kira 10-15 menit di
awal kelas mengenai topik presentasi yang secara acak pula baru diberitahu saat
kami berdiri di depan kelas.
Dan…… Pagi itu
ternyata nama saya yang disebut sebagai pembicara di depan kelas dengan topik “elopment” ya intinya topik ini membahas
tentang pernikahan yang dilakukan tanpa persetujuan orang tua atau bahasa
kerennya itu kawin lari. Kawin Lari,
ka-win la-ri. Ka aka wi iwin la ala ri iri…… OK tahu tidak saya saja masih umur
19, menikah juga belum. Terus disuruh presentasi dengan topik itu yang sayapun
gatau mau ngomong apaaaa hoooy. *zoom-in, zoom-out kayak di tv tv*
Yasudah dengan
moto keep calm and keep moving forward
#halah akhirnya saya maju ke depan kelas dengan santai tapi anehnya saya tidak
merasa deg-degan atau gugup loh. Saya mulai berbicara (dalam bahasa inggris)
mengenai topik ini. Ya pokoknya saya gak berhenti bicara, apa yang saya tahu,
ya saya bicarakan, saya bercerita kepada semuanya hingga selesai. Setelah
selesai, ada sesi pertanyaan dari 4 teman sekelas. Pertanyaan-pertanyaannya itu
loh… kayak cerita yang di sinetron-sinetron :”) saya jawab sebisa saya dengan
bantuan dari miss umi juga, Alhamdulillah sesi presentasi hari itu cukup
sukses.
Hari sudah
siang, saya dan teman-teman sudah bisa keluar kelas dan pulang ke rumah
masing-masing. Tapi hari itu berbeda dari hari-hari minggu sebelumnya, saya
tidak langsung pulang ke rumah setelah kursus LIA, melainkan saya masih harus mengikuti
kursus di tempat les lainnya. Tempatnya sih tidak begitu jauh karena lokasinya
ada di Ranah Kopi yang bisa ditempuh dengan berjalan kaki dari LIA margonda.
Saya tiba
bersama Papah saya, beliau mau mengantar saya di hari pertama kursus ini
*emoticon peluk*. Papah saya memang orang yang sangat baik, walaupun kadang
suka marah dan memberi nasihat kalau saya melakukan kesalahan. Saking baiknya,
saya kadang suka menangis di malam hari mengingat kebaikan-kebaikan Papah dan
Mamah dari saya terlahir di dunia hingga saya yang sekarang. Tapi saya… saya
masih begini-begini saja. Saya pikir saya belum membuat mereka bangga dengan
diri saya yang sekarang.
Setibanya di
Ranah Kopi, Papah saya menunggu di lantai 1 sembari membaca buku yang ia bawa
dari rumah. Dan saya, saya naik ke lantai 3 untuk memulai kursus hari pertama
saya di Academy RMC bersama tutor saya yang bernama kak Alice. Ya, hari itu
saya memutuskan sesuatu hal yang baru dalam hidup saya, saya ingin menambah
wawasan, skill, dan pengalaman saya pada bidang MC. Siapa saja bisa menjadi MC
asalkan ada niat dan usaha, serta konsistensi saat melakukannya. (Ya ya ya…
ngetiknya sih gampang tapi toh sampai saat ini saya belum bisa PD kalau saya
kelak bisa jadi MC professional huhu *sad emoticon*). Ya setidaknya saya sudah
mencoba hal baru, apa yang akan terjadi nanti adalah takdir Tuhan, manusia
hanya bisa berencana dan Tuhan yang Maha Mengetahui yang akan menentukan.
Yes, go ahead
Amalia. I believe I can do this.
RMC Indonesia,
adalah suatu lembaga yang didirikan oleh kak Alice. Salah satu program dari RMC
adalah Academy RMC, dimana kita bisa mendapatkan ilmu tentang bagaimana menjadi
MC Professional dibantu oleh tutor kece kak Alice hehehe. Nah saya kan kuliah
di jurusan Teknik Arsitektur, kerjaannya bikin gambar bangunan, design konsep
gedung dan lain-lain. Tapi kok ikut kelas MC………….? Yep, So what? Saya mau mengasah skill saya berbicara di depan umum, saya
mau menghilangkan rasa gak PeDe saya saat berbicara di depan umum, saya mau
bisa menyuarakan apa yang saya tahu dengan suara lantang di depan umum. Saya
mau berubah menjadi pribadi yang lebih baik dari hari kemarin. Saya mau menjadi
salah satu agen perubahan di Indonesia. (mimpi dulu boleh ya, semoga terwujud…
aamiiin)
Okay, hari
pertama saya memulai kursus MC dengan mempelajari modul 1 yaitu Mental Block
dan Mindset. Di lantai 2 terdengar agak ramai karena ada banyak kalangan muda
sedang interview untuk kegiatan volunteering di RMC selama periode setahun
kedepan, wiiih seru banget yah hehe. Saya mah di lantai 3, fokus belajar sama
kak Alice, supaya bisa jadi MC sukses kayak kak Alice dan para Alumni RMC ini
aamiiin. Ada beberapa tugas yang harus saya kerjakan di modul tersebut, saya
belum sempat membaca semuanya tapi saya tahu tugas-tugasnya.
Hari semakin
sore, sudah jam 15.00 ternyata, saya pun sudah diperbolehkan pulang ke rumah.
Saya pulang dengan membawa tugas-tugas baru dan pengalaman baru dalam hidup
saya.
Saat di rumah,
saya melakukan kebiasaan buruk saya… yaitu bersantai sambil main gadget (HP).
Saya termasuk orang yang sangat kepo, dalam hal positif. Ketika ada
berita/kabar baru tentang hal apapun itu saya langsung mencarinya di internet,
dan jadi detektif kepo. Untuk sementara waktu saya bisa lupa dengan kehidupan
realita saya. Saya pun lupa dengan tugas-tugas yang harusnya saya kerjakan tapi
malah jadi tertunda. Ya itulah saya, masih mencoba belajar untuk berhijrah
menjadi pribadi yang lebih baik.
Alhamdulillah ya
sesuatu, hari minggu, 16 Agustus 2015 berjalan dengan baik dan menyenangkan
*happy emoticon*
Wassalamualaikum warahmatullahi
wabarokatu.
Kesalahan :
-
Saya masih suka malas-malasan dan tidak bisa
lepas dari gadget.
Hal Baik :
-
Saya mulai berani tampil tanpa gugup, dan
berbicara di depan umum.
-
Saya berani keluar dari zona nyaman dan mencoba
pengalaman baru dalam hidup saya.
No comments:
Post a Comment